Ini Cara Liverpool Menaklukkan Sang Juara Bertahan di Anfield

633CASH - Juergen Klopp, manajer Liverpool, sempat uring-uringan. Dalam dua pertandingan terakhir, melawan Burnley dan Tottenham Hotspur, timnya begitu sulit mencetak gol. Di Turf Moor, mereka harus menderita kekalahan 2-0 karena gagal menemukan gawang. Di White Hart Lane, mereka hanya mencetak gol lewat tendangan penalti. Sisanya? Meski bermain baik, tetap saja sulit untuk menemukan gawang.

Hal inilah yang sempat menjadi kekhawatiran Klopp kala timnya harus menjamu sang juara bertahan, Leicester City, dalam laga yang berlangsung di Anfield yang baru saja direnovasi -- kapasitas bertambah 54.000). Tapi, begitu pertandingan berjalan, kekhawatiran Klopp perlahan sirna karena pada akhirnya, timnya mampu kembali menemukan gawang yang sempat begitu sulit dicari.

Liverpool menang dengan skor 4-1 dalam pertandingan ini lewat gol-gol dari Roberto Firmino ('13. '89), Sadio Mane ('31), dan Adam Lallana ('56) yang hanya dibalas satu gol lewat Jamie Vardy ('38). Ada beberapa hal yang menjadi penentu The Reds dapat kembali menemukan gawang, sekaligus juga meraih kemenangan dalam pertandingan ini.

Leicester Kesulitan Menyerang

Leicester City mencetak gol dalam pertandingan kali ini lewat Jamie Vardy. Mereka juga berhasil mencatatkan 12 tembakan ke gawang. Namun, gol Vardy ini lahir karena blunder dari Lucas Leiva. Selain itu, dari total 12 tembakan yang dilakukan The Foxes, hanya tiga yang mengarah ke gawang Liverpool. Sisanya adalah tembakan off target dan blocked.

Sulitnya Leicester dalam menyerang dikarenakan sosok N'Golo Kante yang pindah ke Chelsea belum ada yang mampu untuk menggantikan. Ia yang menjadi figur gelandang ball winner sekaligus cerdas dalam mendistribusikan bola, adalah sosok penting dalam skema penyerangan Leicester musim 2015/2016.

Peran Kante dalam pertandingan ini diemban oleh Danny Drinkwater. Namun, Drinkwater yang sebenarnya lebih bertipikal petarung ini gagal menjalankan peran tersebut, karena ia kurang baik dalam pendistribusian bola. Malah, ia jarang menciptakan umpan yang berujung kepada terciptanya kesempatan bagi Leicester untuk mencetak gol.

Hal ini pun berujung kepada umpan chances created yang diciptakan oleh Leicester, yang tercipta enam saja. Bandingkan dengan Liverpool yang mampu menciptakan 17 umpan chances created, yang empat dari umpan tersebut mampu dikonversi menjadi asisst yang berujung gol bagi The Reds. Sedangkan Vardy dan Okazaki (juga Ulloa) begitu sulit mendapatkan umpan manis dari lini tengah sehingga sulit untuk mencetak gol.

Selain karena lini tengah yang mandeg, sulitnya The Foxes dalam menyerang pun adalah berkat penampilan dari lini pertahanan Liverpool yang menerapkan garis pertahanan yang tinggi (meski sempat meninggalkan lubang yang besar dalam gol Vardy). Lucas Leiva dan Joel Matip kerap maju sampai daerah sepertiga akhir untuk menghalau serangan dari Leicester, sehingga mereka begitu sulit untuk masuk ke dalam kotak penalti Liverpool.

Penyerangan Liverpool yang Lebih Cair

Liverpool bermain kembali dengan pola tanpa penyerang murni, atau lazim disebut false nine. Pola ini sudah diterapkan sejak awal liga, juga sempat menemui jalan buntu dalam dua pertandingan terakhir. Ini dikarenakan tidak adanya sosok penyerang yang mampu membuka ruang bagi pemain lain, juga penyerang yang memiliki kemampuan dribel dan finishing yang handal.

Sebenarnya sosok itu ada dalam diri Daniel Sturridge, Tapi, ia sempat mengalami penurunan performa kala menghadapi Burnley (saat ia ditempatkan sebagai winger) yang membuat ia akhirnya harus menghuni bangku cadangan dalam pertandingan melawan Tottenham. Dalam pertandingan kali ini, Sturridge pun menunjukkan bahwa ia sudah berubah dan mampu menjadi penyerang yang tidak hanya menunggu di depan gawang, tapi mampu menyajikan ruang bagi para pemain lain untuk berkreasi.

Berkat penampilan positif Sturridge ini pula (ia mencetak empat tembakan ke gawang dan satu asisst), penyerangan Liverpool jadi lebih cair. Hal inilah yang membuat Liverpool mampu membongkar pertahanan rapat sejajar yang digalang oleh para pemain Leicester. Sturridge, Firmino, dan Mane kerap bertukar posisi dan saling membuka ruang, sehingga hal ini menimbulkan kebingungan di antara para pemain bertahan Leicester.

Gol pertama dari Firmino dapat menjadi contoh bagaimana cairnya lini serang Liverpool membuat pertahanan rapat Leicester berlubang dan meninggalkan celah, yang akhirnya dapat dimanfaatkan menjadi gol.

Ketiga pemain ini (Firmino, Sturridge, dan Mane) begitu konstan menekan pertahanan Leicester. Ini terlihat dari area gerak mereka sepanjang pertandingan, dan juga sentuhan bola yang mencapai 171 kali sentuhan (total dari ketiga pemain jika disatukan), menunjukkan bahwa mereka terlibat dalam rangkaian serangan Liverpool dalam pertandingan kali ini.

 

Penampilan Gemilang Giorginio Wijnaldum

Meski jarang mencatatkan aksi yang cukup menarik perhatian dalam pertandingan kali ini, penampilan Wijnaldum patut diacungi jempol. Ia adalah sosok gelandang box-to-box yang mampu menjadi jembatan antara lini belakang dan lini depan Liverpool. Ia juga yang menjadi jembatan antara Henderson (bertahan) dan Lallana (menyerang). Kalau ada kesempatan, ia juga tidak ragu masuk ke dalam kotak penalti.

Satu asisst yang ia berikan untuk Adam Lallana mencerminkan keberaniannya dalam masuk menusuk ke kotak penalti. Ia juga rajin bergerak menyisir lapangan untuk membantu pertahanan dan penyerangan, tanpa lelah berlari di lapangan. Maka, dengan kehadirannya, lini tengah The Reds pun menjadi lebih hidup.

Kesimpulan

Penyerangan yang cair, dan pertahanan yang ketat berhasil membuat Liverpool kembali berhasil mencetak (banyak) gol dan meraih kemenangan. Keadaan Sturridge yang perlahan membaik pun membuat serangan-serangan Liverpool lebih menggigit dan tajam daripada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Namun, pekerjaan rumah masih menanti mereka. Satu blunder yang diciptakan oleh Lucas Leiva menunjukkan kalauThe Reds masih perlu pembenahan di lini pertahanan.

Sementara itu, bagi Leicester, masalah lini tengah yang mandeg, dan berakibat pada mandulnya penyerangan adalah masalah yang harus diselesaikan. Ranieri dapat memanfaatkan pemain yang ada, atau bersiap memburu pemain baru pada bursa transfer musim dingin nanti untuk menambah kekuatan, tepatnya di posisi gelandang tengah.

News Lainnya

Prediksi Hull City vs Liverpool 4 Februari 2017

HASIL PERTANDINGAN PORTO VS LEICESTER CITY SKOR 5-0

Rabu, Andre Gomes Teken Kontrak dengan Barca

Prediksi Bola Linfield vs Rosenborg BK 11 Juli 2019

Hasil pertandingan Granada vs Barcelona